Thursday, February 29, 2024
Thursday, February 29, 2024
Home » Para perempuan di balik inovasi yang membawa minuman Champagne mendunia

Para perempuan di balik inovasi yang membawa minuman Champagne mendunia

by Taris Maharani
0 comment

Sementara perempuan dilarang memiliki bisnis di Prancis pada abad ke-19, tiga orang janda, yang bebas dari aturan tersebut berkat status mereka, mengembangkan tiga perusahaan raksasa Champagne (sampanye) yang paling dikenal di dunia.

Di pinggiran Kota Reims di timur laut Prancis, jalan-jalan berliku bertemu dan menyatu di dekat sebuah istana berpagar.

Mobil-mobil berbaris di bundaran yang dikelilingi oleh ladang yang luas. Suasananya tenang.

Ini karena aksi yang sesungguhya terjadi hampir 20 meter di bawah tanah.

Menyusuri dunia bawah tanah ini adalah cellar (gudang bawah tanah) sepanjang lebih dari 200 kilometer, yang diisi jutaan botol sampanye yang melapisi dinding batu kapur.

Botol-botol ini tidak memiliki label dan beberapa ditandai dengan kata-kata “Saya pernah di sini” oleh para turis yang mengukir debu yang melapisi botol-botol itu.

Sebagian dari botol-botol ini terbalik, dirantai, bersinar dalam cahaya redup ruang bawah tanah dengan latar belakang terowongan yang tampaknya tidak mengarah ke mana pun. Sebagian lainnya ditumpuk di gua-gua kecil yang berada di balik gerbang besi yang menjaganya.

Ini adalah titik nol dari pasar Champagne dunia.

Dan, secara historis di dalam gua-gua ini, para janda memimpin.

Beberapa inovasi terbesar dari Champagne berasal dari kreativitas beberapa perempuan.

Pada abad ke-19, Kode Napoleon membatasi perempuan untuk memiliki bisnis di Prancis tanpa izin dari suami atau ayah.

Namun, para janda dikecualikan dari aturan tersebut, alhasil menciptakan celah bagi Barbe-Nicole Clicquot-Ponsardin, Louise Pommery, dan Lily Bollinger – antara lain – untuk mengubah kebun anggur menjadi perusahaan-perusahaan raksasa dan pada akhirnya mengubah industri Champagne, secara permanen mengubah cara pembuatan dan pemasarannya.

Barbe-Nicole Ponsardin

Pada 1798, Barbe-Nicole Ponsardin menikah dengan François Clicquot, yang kemudian menjalankan bisnis tekstil dan anggur kecil milik keluarganya, awalnya bernama Clicquot-Muiron et Fils di Reims. Bisnis itu berubah menjadi sebuah bencana keuangan.

Ketika Clicquot meninggal pada tahun 1805, sehingga ia menjadi janda pada usia 27 tahun, Barbe-Nicole membuat pilihan yang tidak umum pada periode itu – yakni mengambil alih perusahaan.

“Itu adalah keputusan yang sangat tidak biasa bagi seorang perempuan dengan status ekonominya,” kata Tilar Mazzeo, sejarawan budaya dan penulis The Widow Clicquot .

“Akan sangat tidak biasa baginya untuk menjalani sebuah bisnis, karena dia sebenarnya tidak butuh.. Dia bisa saja menghabiskan hidupnya dengan santai dan sebagai nyonya besar di komunitasnya.”

Saat itu, dia sangat membutuhkan dana untuk bisnisnya dan akhirnya meminta kepada ayah mertuanya untuk jumlah yang hari ini setara dengan nilai sekitar €835.000 (sekitar Rp13,6 miliar).

“Hebatnya, ayah mertuanya mengatakan ‘ya’,” Mazzeo menjelaskan, “yang menurut saya mencerminkan sesuatu yang sangat penting tentang siapa dia menurut pendapat ayah mertuanya, dan apa yang menurutnya mampu dia lakukan sebagai seorang perempuan tanpa latar belakang bisnis.”

Sejak awal, Barbe-Nicole menggunakan status jandanya sebagai alat pemasaran, dan ini membuahkan hasil yang positif.

Rumah Champagne itu menjadi Veuve Clicquot-Ponsardin – kata Prancis veuve diterjemahkan menjadi “janda”.

“‘Veuve’ menyiratkan semacam kehormatan tertentu untuk minuman ini… beberapa dari minuman ini telah dikaitkan dengan pesta pora dan pesta liar di istana kerajaan di masa lalu,” jelas Kolleen M Guy, penulis “When Champagne Became French: Wine and the Making of a National Identity” dan ketua, Divisi Seni dan Kemanusiaan di Universitas Duke Kunshan di Jiansu, China.

Memberi kata “veuve” pada kemasan membawa pengaruh tertentu, dan produsen Champagne lainnya – seperti Veuve Binet dan Veuve Loche – segera mengikutinya.

“Perusahaan yang tidak memiliki seorang janda sebagai kepala bisnis akan menciptakan semacam alternatif, seperti veuve off-brand, sehingga mereka dapat mencoba mengambil bagian dari tren ini,” kata Guy.

Meskipun Barbe-Nicole menyelesaikan pelatihan selama empat tahun dengan pembuat anggur lokal untuk belajar lebih baik tentang bagaimana membuat bisnis tumbuh, sekali lagi dia berada di ambang kehancuran finansial pada awal abad ke-19.

Dia mendapatkan suntikan €835.000 lagi dari ayah mertuanya untuk menyelamatkan bisnisnya. Namun, melakukan hal ini selama Perang Napoleon di benua Eropa tidaklah mudah, karena penutupan perbatasan mempersulit perpindahan produk.

Tetapi pada tahun 1814, Barbe-Nicole tahu bahwa dia kehabisan pilihan.

Menghadapi kebangkrutan, dia beralih ke pasar baru, yaitu: Rusia.

Sementara perbatasan Rusia masih ditutup menjelang akhir perang Napoleon, dia memutuskan untuk berjalan ke wilayah perbatasan.

Champagne
Keterangan gambar,Menambahkan kata “veuve” (artinya “janda”) pada label botol Champagne, seperti Veuve Clicquot-Ponsardin, memberikan kesan tersendiri.

“Dia membuat pertaruhan besar ini, di mana dia tahu bahwa jika dia bisa memasukkan produknya ke Rusia sebelum Jean-Remy Moët, yang merupakan musuh bebuyutannya, dia akan mampu merebut beberapa pangsa pasar,” kata Mazzeo .

“Kalau tidak, begitu perbatasan dibuka secara resmi, sampanye Moët akan masuk, dan Moët akan terus menjadi pemain dominan di pasar ekspor Rusia yang sangat penting itu.”

Jadi, Barbe-Nicole menyelundupkan ribuan botol melintasi perbatasan.

Risikonya tinggi karena saat itu sudah di akhir musim dan cuaca panas bisa merusak sampanye. Dan jika tertangkap, botol-botol itu akan disita, yang akan berkontribusi pada kehancuran finansial yang lebih besar lagi.

Untungnya, botol-botol sampanye tiba dalam kondisi sempurna dan menggemparkan pasar.

“Dalam 90 hari, dia berubah dari seorang pemain tak dikenal [di Rusia] menjadi dikenal sebagai ‘The Widow’ (Sang Janda),” kata Mazzeo .

Dengan permintaan yang meningkat, datang pula kebutuhan untuk meningkatkan produksi dengan cepat.

Proses menghilangkan sel ragi mati dari dasar botol – langkah penting dalam pembuatan sampanye setelah proses penuaan dan fermentasi – rumit dan merusak kualitas minuman. Tapi Barbe-Nicole punya ide yang lebih baik.

“Dia pada dasarnya berkata kepada pembuat anggurnya, ‘bawa meja dapur saya ke ruang bawah tanah – saya ingin Anda membuat beberapa lubang di dalamnya dan mari kita balikkan [botol] ini. Tidakkah menurut Anda itu akan menjadi cara yang lebih baik untuk mengeluarkan ragi? Ragi akan mengendap di leher botol, kita bisa mengeluarkannya, itu akan lebih cepat, bukan?’,” kenang Mazzeo.

“Semua orang berkata ‘tidak, tidak, tidak, kita tidak bisa melakukannya dengan cara itu’.” Tapi mereka akhirnya mengikuti permintaannya itu.

Champagne
Keterangan gambar,Teknik yang dikenal sebagai “riddling” masih menjadi bagian penting dari proses pembuatan Champagne saat ini.

Langkahnya itu sukses. Teknik itu kemudian dikenal sebagai “riddling” (membuat lubang pada sesuatu) dan masih menjadi bagian penting dari proses pembuatan sampanye hingga saat ini.

Louise Pommery

Janda kedua yang merevolusi industri adalah Louise Pommery.

Lahir pada tahun 1819, Pommery masuk ke kancah industri sampanye menjelang akhir hidup Clicquot.

Ketika dia masih muda, ibunya mengirimnya ke sekolah di Inggris – sebuah langkah tidak biasa yang nantinya akan menguntungkannya.

“Dia tidak hanya diajari cara menjahit,” kata Pangeran Alain de Polignac, cicit dari Louise Pommery .

“[Ibunya] memberinya pendidikan, yang tidak biasa bagi seorang gadis borjuis pada masa itu.”

Setelah studinya, dia menikah dengan Alexandre Pommery, yang bermitra dengan Narcisse Greno pada tahun 1856 untuk membangun rumah Champagne miliknya, menciptakan Pommery et Greno .

Pada tahun 1858, Alexandre meninggal. Bagi Louise Pommery, langkah selanjutnya sudah jelas. Delapan hari setelah kematiannya, dia turun tangan untuk mengambil alih bisnis.

“Takdir memanggil, dan Madame Pommery sudah siap,” kata de Polignac. “Dia memiliki seorang putra berusia 15 tahun dan seorang bayi dalam pelukannya, dan alih-alih kembali ke rumah ibunya, dia memutuskan untuk mengambil alih [bisnis sampanye].”

Sementara Clicquot mungkin telah merebut Rusia, Pommery bertekad untuk menguasai pasar Inggris.

Pada saat itu, sampanye sangat manis – beberapa botol akan memiliki sisa gula hingga 300 gram dibandingkan dengan 12 atau lebih gram pada umumnya hari ini – dan disajikan di atas es, seperti semacam slushie.

Dengan demikian, orang Inggris, yang biasanya memiliki selera yang lebih kering, tidak menyukainya.

Tapi Pommery merasa dia bisa membuat sampanye yang akan membuat mereka ketagihan.

Jenis brut Champagne miliknya memasuki pasar pada tahun 1874. Rasanya sangat kering dan segar. Itu sangat seimbang dengan selera yang ringan, lembut tapi tegas.

“Idenya adalah membuat anggur yang jauh lebih enak, dengan kumpulan yang jauh lebih halus, waktu yang lebih lama di dalam gua…” kata de Polignac. “Ini meledak di pasar Inggris, karena itulah yang mereka tunggu-tunggu.”

Pariwisata sampanye pun mulai berkembang.

Sementara sebagian besar pembuat sampanye membangun chateaux (istana) setelah mencapai kesuksesan dalam bisnis, Pommery melakukan sebaliknya, membangun perkebunan sebagai sarana untuk menarik kesuksesan.

Lily Bollinger

Pada pertengahan abad ke-20, Lily Bollinger muncul.

Dia mengambil alih bisnis Bolligner Champagne pada tahun 1941 ketika Jacques Bollinger, suaminya dan pemilik merek tersebut, meninggal dunia.

Pada saat itu, hak perempuan atas kepemilikan bisnis masih dibatasi (baru pada tahun 1965 perempuan diberikan hak penuh atas pekerjaan, perbankan, dan pengelolaan aset tanpa izin) meskipun para janda masih dapat menghindari aturan tersebut.

Champagne
Keterangan gambar,Pariwisata sampanye pun mulai berkembang berkat pengaruh dari para perempuan yang berinovasi dalam industri sampanye.

“Dia memutuskan untuk mengambil alih manajemen – dia bisa saja menjual bisnisnya,” jelas keponakannya, Etienne Bizot.

Bollinger membawa sampanye buatannya ke Amerika Serikat.

Selama tiga bulan, dia bepergian ke seluruh negeri mengangkut anggurnya, sendirian.

Menurut sejarah resmi Bollinger, dia mendapatkan popularitas sedemikian rupa sehingga dia dinobatkan sebagai “ibu negara Prancis” oleh surat kabar Chicago di Amerika pada tahun 1961.

Beberapa tahun kemudian, Bollinger merilis RD (recently disgorged) vintage Champagne, sebuah teknik inovasi yang ia rancang dengan memproses botol dengan ampasnya, ragi mati dan kulit anggur, untuk waktu yang lama dan kemudian menghilangkan endapan dari botol dengan tangan.

Sampanye jenis tersebut masih menjadi salah satu cuvees yang paling didambakan dari merek tersebut hingga saat ini.

“Saya pikir yang tidak biasa tentang para janda adalah mereka [tidak] menikah lagi,” jelas Guy.

“Di satu sisi, saya pikir mereka tidak melakukannya karena jika mereka menikah lagi, mereka harus menyerahkan sebagian bisnis kepada suami mereka… Mereka akan kehilangan status hukum mereka, jadi dalam beberapa hal, itu adalah cara mempertahankan kemerdekaannya.”

Kemandirian dan kreativitas ketiga janda itu membuka jalan bagi generasi perempuan selanjutnya, dan inovasi mereka diabadikan dalam botol kaca.

“Para perempuan ini benar-benar mengubah sesuatu – mereka adalah pionir yang sangat terlibat dalam momen-momen penting [pembuatan sampanye], dan nilai-nilai penting itu masih terwakili,” kata Mélanie Tarlant, pembuat anggur generasi kedua belas dan anggota La Transmission, Femmes en Champagne, sebuah asosiasi pembuat sampanye yang dipimpin oleh perempuan.

Dia membuat sampanye non-dose (dosis rendah gula), dan mencatat bahwa Pommery adalah orang pertama yang memelopori teknik yang masih dia gunakan sampai sekarang.

“Itu tadinya bisa saja hilang dengan waktu.”

Sumber : BBC

You may also like

Soledad is the Best Newspaper and Magazine WordPress Theme with tons of options and demos ready to import. This theme is perfect for blogs and excellent for online stores, news, magazine or review sites. Buy Soledad now!

Wanita Berita, A Media Company – All Right Reserved.