Thursday, July 18, 2024
Thursday, July 18, 2024
Home » Standar Ganda Masyarakat terhadap Tindakan Pria dan Wanita

Standar Ganda Masyarakat terhadap Tindakan Pria dan Wanita

by Taris Maharani
0 comment

Apakah laki laki akan benar-benar bisa setara dengan perempuan? Tiba-tiba mikir seperti ini karena kejadian yang aku alami di siang tadi saat lagi jalan-jalan di Taman flora Surabaya. Yah, sambil jalan-menikmati sejuknya udara dan rindangnya pepohonan di tengah kota yang padat. Selain itu agar bisa fresh sih pikirannya sebelum akhirnya kembali berhadapan dengan laptop membaca hehehe.

Nah, pada suatu momen ingin ke toilet. Di toiletnya sudah dibedakan toilet laki-laki dan perempuan sih. Kebetulan toilet yang untuk pria masih tertutup alias ada orang di dalam. Ditunggu agak lama, maka keluarlah ibu-ibu. Hmmmm, aku sih gak mempermasalahkan sih, Cuma kemudian otakku berpikir, bisakah kesetaraan itu benar-benar ada?seandainya situasinya laki-laki yang keluar dari kamar mandi pria gimana ya responnya? Hihihihihihi. Mungkin bagi masyarakat kelas menengah ke atas hal seperti ini bukan masalah besar, tapi bagi orang-orang yang selalu menyuarakan masalah equality, maka hal ini sepertinya menjadi standar ganda. Kemudian aku bepikir bahwa ada banyak standar ganda di dunia ini terkait gender.

Aku ingat sebuah eksperimen sosial, sepasang kekasih atau apalah itu, intinya pria dan wanita sedang bertengkar. Saat si wanita dalam kondisi emosional, keluarlah kata-kata kasar, dan memukuli pria pasangannya tersebut. Reaksi orang-orang yang melihat hal itu adalah diam, hanya melihat tanpa melakukan suatu hal untuk melerai atau sejenisnya. 

Orang-orang membiarkan wanita melampiaskan kemarahannya dengan memukuli dan melakukan makian kasar kepada si pria. Nah, kemudian dilakukanlah percobaan kedua, dimana si pria yang emosi dalam pertengkaran, maka dengan segera orang-orang di sekitar langsung melakukan Tindakan cepat mencegah si pria melakukan Tindakan yang lebih parah lagi.

Atau kejadian yang menimpa Johny Deep dengan mantan istrinya Amber. Semua orang dan termasuk Amber sendiri sudah sangat amat yakin bahwa tidak mungkin Tindakan kekerasan dilakukan oleh sang wanita. Pasti laki-laki yang dianggap memiliki kekuatan yang akan melakukan kekerasan. 

Namun, fakta di lapangan dan sudah terbukti, justri Amber Heard yang melakukan kekerasan terhadap Johny Deep. Ambre harus menelan pil pahit karena semua scenario yang sudah dirancang sedemikian rupa gagal begitu saja.

Dari dua kasus itu, maka kita perlu berpikir, apakah kesetaraan itu benar-benar harus setara dalam segala hal? Atau setara dalam hal-hal tertentu? Namun jika kesetaraan hanya dalam hal-hal tertentu maka yang ada justru merugikan pihak lain dalam banyak hal. Kalau pria mencium wanita secara tiba-tiba maka itu akan dianggap sebuah pelecehan. Bagaimana kalau tiba -tiba wanita yang menciup pria, maka sebutannya adalah romantis. 

Tiba-tiba aku teringat sebuah meme, video agak-agak lupa, intinya semacam ada cewek-cewek yang godain laki-laki agak lupa, jualan apa ya, atau tukang ojek online ya, lupa aku. Nah, godaannya itu godaan yang jelas-jelas seksual. Hanya dianggap jadi bahan ketawaan saja. Tapi kalau lelaki yang menggoda seperti itu bisa di bawa ke kantor polisi deh, wkwkwkwkwk.

Dari berbagai kasus itu, bagi saya, masyarakat menggunakan standar ganda . mereka ingin wanita dihargai sebaik mungkin, tapi yang ada justru wanita bisa melakukan apapun yang mereka inginkan, namun lelaki yang posisinya sudah ada di atas tidak bisa melakukan apa yang wanita bisa. Seperti kasus tadi, wanita bisa menggoda pria tanpa takut akan berakhir ke polisi, sementara laki-laki harus berhati-hati dalam bertindak terhadap wanita karena norma sudah mengatur hal yang demikian. Jika tetap nekat, maka bisa bermasalah untuk jangka panjang.

Bagaimana dengan saya? Hmmmm, aku tidak tahu ap aitu kesetaraan, aku hanya tahu benar ya benar dan salah ya salah. Misal nih, suatu bentuk pelecehan seksual tidak memandang pria atau wanita, kalau salah ya salah. Jangan mentang-mentang pelakunya adalah wanita maka itu diijinkan karena wanita makhluk yang lemah. 

Dalam hal tertentu saya sepakat bahwa kesetaraan harus dijalankan. KDRT misalnya, walaupun Sebagian besar pelakunya adalah pria, namun bukan berarti wanita tidak bisa melakukan kekerasan. Kita harus menerima bahwa wanita juga bisa dan justru bisa menggunakan kelemahan itu sebagai kekuatan untuk memanipulasi masyarakat seperti yang dilakukan oleh Amber Heard (walau gagal sih hehehe).

Pria memang memiliki kekuatan yang lebih besar sehingga tidak perlu melakukan kekerasan berlebihan terhadap wanita. Namun, bukan berarti wanita tidak mampu melakukan kekerasan. Misal nih, prianya lagi bertengkar, terus berusaha menahan diri agar tidak terpancing emosi dan si wanita tahu bahwa dia di posisi kekuatan lebih lemah tapi malah terus memprovokasi dengan tujuan agar si laki laki kehilangan kendali dan akhirnya bisa dimanipulasi untuk keinginnya. Hmmm, terlalu banyak nonton sinetron sepertinya saya, hahahahah.

Source : Kompasiana

You may also like

Soledad is the Best Newspaper and Magazine WordPress Theme with tons of options and demos ready to import. This theme is perfect for blogs and excellent for online stores, news, magazine or review sites. Buy Soledad now!

Wanita Berita, A Media Company – All Right Reserved.