Thursday, April 25, 2024
Thursday, April 25, 2024
Home » Pil KB: Perempuan kontroversial di balik penemuan pil kontrasepsi pertama dunia

Pil KB: Perempuan kontroversial di balik penemuan pil kontrasepsi pertama dunia

by Saliha Vanesha
0 comment

“Wahai para Ibu! Mampukah Anda punya keluarga besar? Apakah Anda mau punya anak lagi? Kalau tidak, mengapa Anda masih punya anak? Jangan membunuh, jangan mengambil nyawa, tetapi cegah. Informasi yang aman dan tidak berbahaya bisa didapatkan dari perawat terlatih …”

Deretan kalimat tersebut merupakan iklan yang muncul di New York pada 1916 untuk mempromosikan klinik keluarga berencana pertama di Amerika Serikat, yang didirikan oleh Margaret Sanger. 

Kontrasepsi adalah hal yang kontroversial dan ilegal waktu itu. Klinik tersebut ditutup tidak lama kemudian dan Sanger dijebloskan ke penjara. Tetapi ketika ia meninggal 50 tahun kemudian, karya hidupnya telah mengubah keluarga berencana di seluruh dunia. 

Dipuji oleh media dan cendekiawan sebagai “ibu kontrasepsi”, Sanger adalah sosok yang mengembangkan pil KB pertama di dunia.

Sosok kontroversial

Namun, metode dan motifnya tetap kontroversial. Hubungannya dengan gerakan eugenetika telah menyebabkan dirinya dituduh menggelorakan rasisme. 

“Warisan Sanger tidak semuanya baik,” kata Sanjam Ahluwalia, profesor Sejarah dan Studi Perempuan dan Gender di Universitas Arizona Utara, dan penulis bukuReproductive Restraints: Birth Control in India, 1877-1947

“Saya pikir [warisan Sanger] tidak hanya terkait dengan pembebasan [perempuan] … tapi saya pikir meng-cancel seseorang seperti Sanger terlalu simplistik … Seseorang perlu membacanya secara historis [dan] kritis,” katanya kepada The Forum dari BBC World Service Radio. 

Dari keluarga

Sanger lahir pada tahun 1879 di negara bagian New York, anak keenam dari 11 bersaudara. Ayahnya, Michael, adalah seorang tukang batu kelahiran Irlandia. Keluarganya miskin dan tinggal di gubuk. Ibunya mengalami 18 kehamilan, dan tujuh kali keguguran. 

Sanger memulai kariernya sebagai perawat dalam perawatan paliatif. Saat itu dia menyaksikan seorang perempuan meninggal karena komplikasi dalam kehamilan dan juga menyaksikan akibat dari aborsi tanpa bantuan medis. 

“Undang-undang Comstock berlaku, yang melarang penggunaan sistem pos untuk mendistribusikan keluarga berencana atau informasi tentang kontrasepsi atau peralatan kontrasepsi. Ada juga undang-undang yang melarang kontrasepsi di banyak negara bagian,” kata Elaine Tyler May, Profesor Studi dan Sejarah Amerika di Universitas Minnesota, dan penulis America and the Pill: A History of Promise, Peril, and Liberation.

Sanger juga harus menghadapi pengaruh kuat Gereja Katolik, yang memandang kontrasepsi sebagai dosa.

Hak mengendalikan kehamilan

Pada Maret 1914, Sanger menerbitkan The Woman Rebel, yang menganjurkan hak untuk mempraktikkan pengendalian kehamilan. Buku itu segera menarik tindakan hukum. Untuk menghindari ancaman penjara, dia mengasingkan diri atas kemauan sendiri ke Inggris.

Di sana, dia dipengaruhi oleh karya-karya Thomas Robert Malthus, yang berpendapat bahwa sumber daya di Bumi tidak akan cukup untuk mendukung pertumbuhan populasi yang tidak terkendali. 

Malthus merekomendasikan untuk menahan dorongan seksual dan menunda pernikahan. Tetapi para aktivis yang dikenal sebagai neo-Malthusian mendorong penggunaan kontrasepsi. 

“Dia mulai juga mengembangkan narasi lain… [mengatakan] bahwa pengendalian kelahiran adalah cara untuk menjaga perdamaian dan [menghindari] kekurangan makanan,” kata Dr. Caroline Rusterholz, seorang sejarawan di Universitas Cambridge, Inggris, yang berfokus pada populasi, kedokteran, dan seksualitas.

Klinik KB pertama

Sanger akhirnya kembali ke Amerika Serikat dari pengasingan. Dia membuka klinik KB pertama di negara itu di sebuah area di Kota New York yang merupakan tempat tinggal bagi banyak perempuan imigran miskin. 

Klinik itu digerebek setelah baru beberapa hari dibuka dan Sanger ditangkap. 

Tidak menyerah, Sanger membuka kembali kliniknya beberapa hari kemudian dan ditangkap lagi. Kali ini dia dituduh menyebabkan gangguan publik. 

Sanger diadili pada tahun 1917 dan persidangannya mendapat sorotan pers besar-besaran. Dia dinyatakan bersalah dan dihukum menjalani 30 hari di dalam penjara atau membayar denda. Sanger memilih pernjara, dan di sana dia mengajarkan para narapidana tentang pengendalian kelahiran.

“Akibat insiden ini [dia] menjadi tokoh besar di Amerika Serikat. Adik perempuannya juga dipenjara [dan] melakukan mogok makan,” kata penulis biografi Sanger Ellen Chesler.

Setelah dibebaskan, Sanger mengajukan upaya banding terhadap hukumannya namun tidak berhasil; tetapi pengadilan memutuskan bahwa dokter boleh meresepkan kontrasepsi karena alasan medis.

Tragedi

Di tengah pertempuran Sanger melawan hukum, kehidupan pribadinya kacau. Pada tahun 1914, dia berpisah dari suaminya, William, dan pada tahun 1915 putrinya satu-satunya, Peggy, meninggal mendadak pada usia lima tahun. 

Sanger sempat berkencan dengan beberapa pria, termasuk peneliti perilaku seksual Havelock Ellis dan penulis H. G. Wells. Pada tahun 1922, ia menikah dengan pengusaha minyak, James Noah H Slee. Pria itu menjadi salah satu penyokong utama gerakannya.

Eugenetika

Sanger mencari dukungan yang lebih luas untuk gerakannya dan bergabung dengan kelompok-kelompok yang saat ini secara luas dianggap menganut pandangan yang sama sekali tidak dapat diterima.

“Dia bermitra dengan Eugenics Society … dan menerima dana dari mereka,” kata Rusterholz.

Institut Penelitian Genom Manusia AS mendefinisikan eugenetika sebagai “teori yang tidak akurat secara ilmiah bahwa manusia dapat diperbaiki melalui pemuliaan populasi secara selektif”.

Tetapi sebelum holokos yang dilakukan oleh Nazi, teori-teori ini diartikulasikan tanpa banyak pertentangan. 

“Dia benar-benar ingin memerangi kemiskinan, tetapi dia masih mendukung beberapa langkah eugenik yang cukup problematik, seperti sterilisasi untuk orang-orang cacat,” imbuh Rusterholz.

Penulis biografi Ellen Chesler mengatakan meskipun Sanger mendukung eugenetika, dia punya pendapatnya sendiri.

“Eugenis klasik menentang pengendalian kelahiran untuk perempuan kelas menengah. Mereka tertarik pada hierarki ras dan kelas dan warna kulit. Sementara Sanger tidak. Dia ingin semua perempuan memiliki lebih sedikit anak.”

‘Kaum miskin dan lebih buruk secara biologis’ 

Sepanjang 1920-an dan 1930-an Margaret Sanger berkeliling dunia, mempromosikan pengendalian kelahiran di China, Jepang, Korea, dan India. 

Dalam sebuah surat kepada London Eugenics Society, yang mendanai perjalanannya pada tahun 1935 ke India, dia menggunakan bahasa yang sarat dengan istilah eugenetika: “untuk membawa kepada orang-orang yang lebih miskin dan yang berasal dari stok biologis yang lebih buruk pengetahuan tentang pengendalian kelahiran.”

Dia sempat mempromosikan bubuk spermisida di India. 

Namun muncul banyak keluhan bahwa kontrasepsi tersebut menyebabkan sensasi terbakar dan sulit digunakan tanpa pengawasan medis. 

“Retorikanya sangat kuat tentang pengendalian kelahiran dan membuat kontrasepsi tersedia, terutama bagi kelas pekerja miskin. Tetapi teknologinya masih belum ada,” kata Sanjam Ahluwalia.

Sanger juga bertemu dengan orang-orang India yang berpengaruh, seperti Mahatma Gandhi dan peraih Nobel Rabindranath Tagore.

Sementara Tagore mendukung kontrol kehamilan, Gandhi menganjurkan selibat dan menahan dorongan seksual. Sanger sudah berusaha sebaik-baiknya, tetapi tidak bisa mengubah pendapat Gandhi. 

Perang Dunia II membuat gerakan kontrol kehamilan di kedua sisi Atlantik tidak menjadi prioritas. Tetapi setelah PD II usai, kekhawatiran baru akan ledakan populasi memberi dorongan ekstra pada gerakan tersebut.

‘Pil ajaib’

Sekitar periode ini Sanger, frustrasi dengan ketidakefektifan dan ketidakpraktisan bentuk kontrasepsi yang ada, seperti diafragma. Dia lalu mulai fokus pada metode oral yang lebih ramah bagi pengguna. Dia menulis tentang mimpinya tentang “pil ajaib” pada tahun 1939, tetapi dia butuh bantuan untuk mewujudkan ide tersebut menjadi kenyataan.

Mitra pertamanya yang penting ialah aktivis hak perempuan Katharine McCormick, seorang janda kaya yang mendanai penelitian tersebut. Dia membujuk ilmuwan fertilitas yang kontroversial Dr Gregory Pincus untuk bergabung dengan proyek tersebut.

McCormick awalnya menyediakan dana US$40.000 (Rp623 juta). Dia kemudian terus menambah pendanaan itu hingga melampaui US$1 juta.

Setelah sepuluh tahun, pil itu siap, tetapi ada masalah dalam pengujian dan validasinya. 

Pada pertengahan 1950-an, aborsi ilegal di AS, jadi tim Sanger pergi ke Puerto Riko dan Haiti. Para perempuan di rumah sakit jiwa dan daerah kumuh dilibatkan dalam pengujian, meskipun banyak dari mereka mungkin tidak menyadari apa yang mereka ambil. 

“Tentu saja, ada kecurangan yang terjadi. Tidak ada keraguan tentang itu,” kata Elaine Tyler.

Pada tahun 1965, AS membuat pil kontrasepsi tersedia untuk wanita yang sudah menikah, kemudian untuk semua perempuan pada tahun 1972. 

Banyak negara lain juga mengadopsinya. Sanger merasa puas melihat pil itu membuahkan hasil sebelum kematiannya pada tahun 1966.

Warisan Sanger

Margaret Sanger telah dijerat dengan tuduhan rasisme selama berpuluh-puluh tahun atas eugenetika dan pekerjaannya dengan orang-orang Afrika-Amerika.

Komunitas kulit hitam mengundangnya untuk membantu mendirikan klinik. Klinik yang disebutnya “Proyek Negro” itu bertujuan menyebarkan saran kontrasepsi kepada komunitas kulit hitam yang miskin di AS selatan. 

Proyek ini menjadi sumber kontroversi, yang diangkat oleh nasionalis kulit hitam dan, kemudian, aktivis anti-aborsi.

Pada saat yang sama, ia meletakkan dasar untuk layanan kesehatan seksual dan aborsi di AS, Planned Parenthood.

Pil kontrasepsi telah muncul sebagai salah satu bentuk pengendalian kelahiran yang paling umum di dunia, setelah sterilisasi dan kondom. Sekarang ia digunakan oleh lebih dari 150 juta perempuan.

You may also like

Soledad is the Best Newspaper and Magazine WordPress Theme with tons of options and demos ready to import. This theme is perfect for blogs and excellent for online stores, news, magazine or review sites. Buy Soledad now!

Wanita Berita, A Media Company – All Right Reserved.