Monday, March 4, 2024
Monday, March 4, 2024
Home » Lindungi Hutan Perempuan Dan Bebaskan Teluk Youtefa Dari Lautan Sampah

Lindungi Hutan Perempuan Dan Bebaskan Teluk Youtefa Dari Lautan Sampah

by Taris Maharani
0 comment

Hutan perempuan yang tersisa di Teluk Youtefa harus dilindungi agar warga tetap bertahan hidup dan mengonsumsi ikan serta terbebas dari buangan sampah warga Kota Jayapura. Pasalnya, dampak kerusakan hutan bakau dan sampah, justru warga kampung Tobati dan Injros yang terkena limbah.

“Sampah sudah menyebar sampai ke tiga kampung. Di dekat perbatasan Kampung Skouw Sae, Skouw Mabo, dan Skouw Yambe juga sudah terkena dampak sampah yang dibuang langsung ke laut di Teluk Youtefa,” kata Wakil Ketua BP Am Sinode GKI di Tanah Ppua, Pdt. Hizkia Rollo, S.Th dalam ‘Diskusi Perlindungan Hutan Perempuan Teluk Youtefa, dari Sampah Kirim Kota Jayapura’ oleh Sinode Gereja Kristen Injili (GKI) dalam rangka peringatan Hari Lingkungan Hidup GKI pada 7 Desember 2023, Bidang KPKC di Jemaat GKI Abara Enggros, Jumat (8/12/2023) siang.

Dia menambahkan dulu warga masih membuang sampah tidak langsung ke laut tetapi melalui tempat penampungan di darat dan langsung ke tempat penampungan akhir.

”Sekarang ini hampir sebagian besar laut di Teluk Youtefa dipenuhi dengan sampah plastik. Hutan perempuan juga perlu dijaga dan dilestarikan agar kehidupan bisa terjaga,” katanya.

Menurut Pdt Hizkia Rollo, kegiatan diskusi ini jelas untuk memberikan perlindungan dan kekuatan bagi kaum perempuan dalam menjaga hutan bakau atau yang dikenal hutan perempuan.

”Oleh karena itu hasil diskusi ini jelas melahirkan sikap bahwa Pemerintah Provinsi Papua, Pemerintah Kota Jayapura, dan kabupaten sekitar harus tetap menjaga dan melindungi hutan bakau, sehingga ketika hendak mengeluarkan sertifikat maka status hutan lindung khususnya hutan bakau jangan diganggu dan dengan sendirinya gugur dan sertifikat tidak bisa diterbitkan,” katanya seraya menambahkan hal ini penting agar ke depan hutan bakau di Bintuni, Mimika, dan Merauke bisa terjaga dengan aman karena ini menyangkut masa depan manusia dengan kehidupan mencari ikan, kepiting, udang, dan siput.

Hal senada juga disampaikan Koordinator Kawasan Pesisir dan Lahan Basah WWF Regio Papua, Veronika. Ia mengatakan bahwa hutan di Papua sangat luas. Sekitar 30 persen hutan di Indonesia ada di Papua. Pulau Papua memiliki ekosistem mangrove terluas di Indonesia dengan luas 1,63 juta hektar, Sumatera peringkat kedua dengan luas 892.835 hektar, dan Kalimantan seluas 630.913 hektar.

Oleh karena itu, menurut Veronika, bahwa hutan bakau itu memiliki cadangan karbon yang lebih jika dibandingkan dengan kekayaan hutan lainnya.

“Hutan bakau itu tempat pemijahan dan berkembangbiak ikan dan makluk hidup lainnya,” katanya.

30 ton sampah dan Perda Perlindungan Teluk Youtefa

Kepala Bidang Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan (KPKC) Sinode Gereja Kristen Injil (GKI) di Tanah Papua, Pendeta Dora Balubun, mengatakan pernah bersama warga Jemaat GKI Abara Enggros mengumpulkan sampah sebanyak 30 ton dalam beberapa jam saja.

“Waktu itu kita sudah usulkan agar ada perahu atau motor yang memungut sampah di Teluk Youtefa sambil memberikan imbauan agar jangan warga membuang sampah ke Teluk Youtefa,” katanya.

Pdt Dora Balubun juga menambahkan, DPRD Kota Jayapura baru saja menetapkan Raperda Kota Jayapura tentang Perlindungan dan Pengelolaan Kawasan Teluk Youtefa bagi Kehidupan Berkelanjutan menjadi Peraturan Daerah (Perda) Kota Jayapura.

“Hanya saja perda ini belum ada nomornya sehingga masih menunggu penomoran perda tersebut,” katanya.

Meskipun sampah banyak ditemui di Teluk Youtefa, menurut Yaconias Maitindom, Bidang Pengawasan dan Perlindungan Dinas Kehuatanan Lingkungan Hidup Provinsi Papua, dalam diskusi di GKI Abara Enggros, air laut di kawasan Teluk Youtefa masih aman dan belum membahayakan.

“Terkecuali laut di depan Kantor Gubernur Dok II Jayapura sudah tidak layak. Semua temuan ini berdasarkan uji dalam laboratorium tentang kualitas air laut,” katanya.

Maitindom juga memuji perjuangan Mama Petronela Meraudje yang mendapat penghargaan Kalpataru karena keberhasilannya menjaga hutan bakau atau hutan perempuan di Teluk Youtefa.

“Mama Petronella sudah fokus menjaga dan melindungi hutan perempuan sejak lama dan merupakan warisan dari orang tua secara turun temurun,” kata Maitindom memuji ketekunan Mama Petronela Meraudje.

Tokoh adat Kampung Enggros, John Sanyi, mengakui banyak sampah di Teluk Youtefa menyebabkan hasil tangkapan warga berkurang dan selalu menjaring sampah plastik di laut.

“Warga sudah mengeluh soal sampah plastik ini,” katanya.

Sumber : Jubi

You may also like

Soledad is the Best Newspaper and Magazine WordPress Theme with tons of options and demos ready to import. This theme is perfect for blogs and excellent for online stores, news, magazine or review sites. Buy Soledad now!

Wanita Berita, A Media Company – All Right Reserved.